Gadis Nirmala

I. Diujung waktu senja, bertemulah gadis pada sepasang belati yang membayang. Tajam menusuknya bukan sampai ke tulang belakang, tapi tertancap pada kepercayaannya. Pekat arus kecewa menghanyutkan kesucian cintanya. Lirih suara rintih tak cukup menyamarkan. Baskara pun tak enggan menenggelamkan gulita padanya. Semakin padam sudah angan-angan.

Semakin  mengakar, semakin menggerogoti, bengis! Musnah jiwa gadis nirmala. Mau bagaimana? Selamatkan? 

II. Tidak usah. Jiwa itu tidak mati! Nyatanya kokoh merengkuh untuk berdiri. Keteguhan nurani ialah yang menjujung pada diri. Beranjaklah gadis pada si Penguasa Insan tertunduk meratapi. Tangan suci penuh khidmat, memerdekakan doa, membalut luka hingga sanubari.

III.  Sampai fajar memayungi, yakinlah jiwa nirmala, ada yang lebih bengis daripada ini.  Kehilangan Tuhan. 

IV. Hingga jantung, hati, dan segala isi dikoyak pun jiwamu akan tetap perkasa. Tidak dengan kehilangan Tuhan. Sudah, Belati itu takkan membayang lagi. Tuhan tidak mati, nirmala.

V. Sadarlah, Kau telah ditusuk, dicabik, dikoyak-koyak belati. Kau tidak akan terusik hanya dengan goresan pisau, kan?





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey, tujuan akhirku

PEMIKIRAN KUNO “PEREMPUAN TIDAK PERLU SEKOLAH TINGGI-TINGGI” MENGHAMBAT KESEJAHTERAAN NEGARA